sob, aku kangen kamu bangett

untuk sobat pertamaku di dunia, ya ampun, aku kangen kamu banget!

kangen obrolan-obrolan panjang yang gak ada ujungnya yang cuma kepaksa berhenti kalau salah satu dari kita udah ketiduran dan biasanya gak ketauan sampai beberapa menit setelahnya karena lampu kamar udah kita padamin gulita. dan lampu kamar itu suka ga ngefek juga ya. maksud kita adalah supaya kita segera tertidur karena besoknya harus bangun pagi apa daya agenda bahasan obrolan ngalor-ngidul kita susah habis!

kangen rasa saling mengerti sementara seisi dunia kadang gak bisa ngerti sama sekali. kangen perasaan bisa ngomong apa aja, bisa jadi diri sendiri, bisa berisik-ribut-cerewet, ngekspresiin apa aja.

kangeen protes-protes pada kejahatan, keburukan, kemunafikan. kangeeen gumaman-gumaman, selorohan-selorohan penuh idealisme dan cita-cita.

mimpi kita selalu panjang! keyakinan kita selalu besar! ya ampun kita bisa jadi apa aja.

sobat pertamaku di dunia, tangisan malam-malam selama seminggu penuh karena aku pindah sekolah sudah gak ada bekasnya kan? kekecewaan karena aku gak jadi nyusul kamu ke kampus itu juga udah hilang kan?

sobat pertamaku di dunia, aku kangen sekali sama kamu, meski sekarang kok kayaknya kamu jauh, dan gak terjangkau ya.

sobat pertamaku di dunia, aku kangen kangen kangen sekali sama kamu! dan berharap penuh bahwa satu hari nanti kita bisa gabung lagi jadi duet solid gak terkalahkan di dunia ini. hehe.

8 Juli 2010: A day After Tanabata, What A Day -_-‘

Jam 8 pagi saya harus presentasi di depan rektorat (tapi ternyata ga jadi rektorat, jadinya dosen-dosen keren dari berbagai fakultas yang ditunjuk rektorat, oh tapi sempet ada Dr.Trias dan Prof. Tarkus! Prof.Tarkus keren yak-red) untuk pembekalan seleksi mapresnas Senin besok. 

Tapi jam 1.30 diniharinya ada pertandingan semifinal Jerman-Spanyol. Gimana dunk? Nonton nggak? Pertanyaan retoris. Tentu aja nonton.

Tapi malam sebelumnya saya juga kurang tidur karena nonton pertandingan Uruguay-Belanda dan besoknya cape banget karena mesti pembekalan di DU sampai siang. Ga masalah, bisa disiasati, strateginya begini: sore-sore selesaikan dulu latian presentasi, ba’da Isya sampai jam 12 tidur trus baru nonton bola jadi ga usah tidur lagi. 

Ga bisaa. Sore-sore saya mesti beli beberapa baju untuk persiapan seleksi dan ke rumah Nada ngambil jas almamater sambil nitip form registrasi P3D. Jaadii, finishing touch persiapan presentasi baru bisa dikerjain ba’da Isya (berhubung sampai jam 8 ada jadwal bersama adik Nenek hehehe), dan ternyataa baca jurnal itu (apalagi kalau diselingin baca novel Kokoro Natsume Soseki) baru beres jam 1 lewatt. Hah, boro-boro mau tidur.

Dan Jerman kalah. Masih susah percaya meski sejak menit pertama permainan Jerman emang gak kayak biasanya. Saya ga peduli sama Paul si Takoyaki, tapi ada firasat dan prediksi. Operan ga rapi, daya dobrak kurang, ini mana winning mentalnya? Being young guns emang riskan. Semangat pasti menggelora tapi menghadapi tim kaya pengalaman “generasi bagus” kata Xavi, pasti butuh kematangan jugaa. Dan gak jadilah Thomas Mueller main di final.

Jadi beginilah jadinya hari itu.

-Ketiduran 2 jam setelah subuh dan jadilah telat total dateng pembekalan. 

-Jerman kalah, dan masih heartbroken,

-Pembekalan seharian sampai jam 4.30 sore dan bener-bener lemes dan ga bisa konsen. Presentasinya kabarnya masih cukup ok (for Pak Ade Makmur dosen antropologi yang keren bilang “kamu sudah lebih baik dibanding waktu seleksi universitas”), tapi tanya jawabnya itu yang berantakan. Saya ga bisa konsen dan mikirin jawaban dan cara menjawab paling tertib. Jadilah nampaknya saya ngebentuk impresi yang salah. Malah saya jadi mikir kayaknya gara-gara cara menjawab saya itu mereka yg denger bisa jadi nganggep saya itu: narrow-minded, ga mau tau, ga visioner. Mungkin saya mikirnya lebay sih tapi yang jelas, saya ga puas banget sama apa yg saya tampilin di tanya jawab. 

Ibu bilang saya kan ga sempurna dan lagian ini kan cuma latihan, yang penting introspeksi dan belajar dari kesalahan. Iya, betul, tapi saya setuju sama pendapat Oniisan di Kokoro Natsume Soseki: It’s a crime not to make the best use of whatever ability one has. Kata Muti: When you don’t do your best, you’re wasting your time. Jadi iya, I know that I deserved to be scolded, dan ya betul harusnya ekspektasi saya tentang hari ini lebih buruk, dan bahwa iyaa, what did happen was muccccch better than i should have worried about. 

Malamnya kepala saya sakit banget. Mual-mual dan akhirnya muntah sampai 3x dengan suksesnya. Saya telefon Ibu dan Ayah lagi untuk ngabarin kondisi fisik dan mental saya, dan tentu aja, diomelin sebentar, “besoknya presentasi di depan rektorat dan malamnya begadang nonton bola??!” 

Yah, memang, 100% salah. Jadi saya minta maaf banget sama diri saya sendiri (terutama akal saya yang sebenernya udah ngingetin kalau itu tindakan sembrono yg ga bijak ngeliat fisik saya yg belakangan ini rada gampang sakit. Akal, kita emang ga bisa 100% ngandelin hati ya. Hati sering lurus dan jernih, tapi kadang suka ga bisa liat kondisi juga. Makanya saya emang butuh banget kamu Kal untuk ngelengkapin Hati), sama orangtua saya, dan sebenernya pengen banget minta maaf sama semua yang ngeliat performa saya kemarin. 

Saya mau banget belajar dari kesalahan. Insyaallah.

…meaningful achievement, lasting success – that doesn’t happen in an instant. It’s not just about the twist of fate, or the lucky break, or the sudden stroke of genius. Rather, it’s about the daily efforts, the choices large and small that add up over time. It’s about the skills you build, the knowledge you accumulate, the energy you invest in every task, no matter how trivial or menial it may seem at the time.
— President Barack Obama (via blinksoflife) (via siikaka)
Reblogged from ka!

passion? destined!

i always know even from the very beginning, even from before, that it’s naturally not my passion. 

but what to do when i finally found out that i was destined to do it, to be it?

nothing better than just ACCEPT it with enthusiasm and thankfulness, and begin to

respond to the DESTINY the best i way i possibly could. 

and remain simply happy, that’s the most important thing. 

Pak AT Mahmud, sayonara, itsuka mata aeru to ii ne.

pak AT Mahmud, kansha shimasu. terima kasih telah menginspirasi sekian banyak anak kecil di Indonesia. semoga masih ada manusia Indonesia yang punya cukup nurani untuk ga melulu mentingin kepentingan komersial dan mau mikirin juga kebaikan anak kecil Indonesia kedepannya.
selamat jalan pak.